Bak Malaikat, Peran Fintech Sanggup Redam Dampak Covid-19

Sudah 8 bulan lamanya pandemi Covid-19 menggerayangi masyarakat Indonesia. Hampir seluruh sektor terkena dampak parahnya, termasuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Penghasilan masyarakat, omzet pengusaha anjlok. ‘Nafas’ sudah megap-megap. Dunia usaha berdarah-darah karena Corona. Tanpa pinjaman uang atau bantuan modal, akan sulit bertahan hidup.

Tetapi untungnya ada fintech (financial technologi). Perusahaan teknologi keuangan yang masih naik daun, sejak booming di 2016. Lewat fintech, akses layanan keuangan digital jadi semakin mudah.

Layanan keuangan, seperti kirim uang, bayar tagihan, beli produk asuransi, mengajukan kartu kredit, sampai pinjaman bank maupun pinjaman online cukup dari ponsel. Selesai dalam hitungan detik saja.

Kehadiran fintech di Indonesia bak pahlawan di tengah pandemi. Kontribusinya nyata bagi perekonomian nasional dan memperbesar akses masyarakat terhadap pembiayaan

.

Berikut fakta-fakta kontribusi fintech di masa-masa sulit tahun ini, seperti dirangkum dari berbagai sumber resmi di acara Indonesia Fintech Summit 2020.

Fintech Redam Dampak Ekonomi Covid-19

Saat pandemi, gaya hidup masyarakat berubah. Transaksi keuangan banyak dilakukan dari rumah, serba online. Salah satunya lewat fintech.

Ketua Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH), Niki Luhur menyebut, fintech mampu mendukung pemulihan ekonomi, khususnya selama diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Semua itu berkat kontribusi fintech bagi individu dan UMKM untuk bertransaksi.

Dukungan lainnya terlihat dari kontribusi bagi lembaga keuangan seperti memfasilitasi pelaku bisnis untuk memiliki alat pembayaran, penyelesaian dan kliring.

Selain itu, mewujudkan implementasi investasi terbaik yang lebih efisien, memitigasi risiko dari sistem pembayaran konvensional serta menabung dan mendanai.

Salurkan Pinjaman Online Rp 128 Triliun

Di masa pandemi dan resesi, banyak orang kesulitan keuangan. Riset Flourish Ventures mengungkap sebanyak 44% dari 586 pekerja lepas di Indonesia, terpaksa meminjam uang agar keluar dari krisis keuangan dan bertahan hidup akibat Covid-19.

Survei BPS juga menunjukkan, sebanyak 69,02% dari 25.256 pengusaha kecil dan menengah butuh bantuan modal usaha. Peluang ini dimanfaatkan fintech untuk menyalurkan pinjaman ke masyarakat maupun UMKM.

Kucuran pinjaman online dari fintech lending hingga September 2020 tercatat sebesar Rp 128,7 triliun atau naik signifikan 113% (yoy). Data ini dibeberkan Presiden Jokowi saat membuka investasi Indonesia Fintech Summit 2020.

PR Fintech Kerek Tingkat Melek Keuangan RI

Perusahaan fintech terus bermunculan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total jumlah penyelenggara fintech terdaftar dan berizin sampai dengan 5 Agustus 2020 sebanyak 158 perusahaan.


Fintech telah berkembang sangat luar biasa. Sayangnya, tingkat melek keuangan di Indonesia masih rendah. Inilah pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan, termasuk dari peran fintech.

Tahun 2019, indeks inklusi keuangan Indonesia sebesar 76%. Angka tersebut kalah dari Singapura yang sebesar 98%, Malaysia 85%, dan Thailand 82%.

Pun tingkat literasi keuangan digital, masih rendah. Masyarakat masih gaptek. Sebanyak 35,5% masyarakat RI menggunakan layanan keuangan informal. Hanya 31,26% orang yang pakai layanan digital.

Fintech juga diharapkan berperan aktif sebagai:

1. Pendamping perencana keuangan

2. Memperluas akses UMKM dalam pemasaran e-commerce

3. Agregator

4. Inovatif credit scoring

5. Memberi layanan equity crowdfunding, serta project financing.

Tak dimungkiri, fintech ilegal merajalela. Terutama dalam layanan pinjam meminjam uang alias pinjaman online.

Jadilah konsumen cerdas. Menggunakan layanan keuangan pada perusahaan fintech terdaftar dan berizin resmi OJK. Jangan sampai tertipu dan menjadi korban fintech bodong.


Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terkini

Label